Kota Sejuta Bunga
  • Home
  • Kota Sejuta Bunga
    • Sejarah Kota Sejuta Bunga
    • Visi & Misi
  • Berita
    • Kota Magelang
    • Info Terkini
  • Kontak
  • Buku Tamu
 

Mengapa Kota Sejuta Bunga

  • Magelang Sebagai Kota Jasa
    Berdasarkan Visi Kota Magelang, yaitu Kota  Jasa Yang Maju, Profesional, Sejahtera, Mandiri dan Berkeadilan Peran utamanya adalah menyediakan berbagai macam jasa pelayanan  bagi ma ...
  • Berangkat Dari Sebutan Kota Kebun
      “SEBAGAI  TUIN VAN JAVA” (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa) žFILOSOFI BUNGA   - MEMBERIKAN KEINDAHAN   - MEMBERIKAN MANFAAT EKONOMI ...

Berita Terpopuler

  • Kunjungan Kerja BPPT Kota Tangerang Selatan
    Jum'at, 04 Januari 2013
    Senin, 24 September 2012 BP2T Kota Magelang menerima kunjungan kerja dari Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Kota Tangerang Selatan.  Rombongan sekitar 20 orang tersebut dipimpin oleh Kepala Badan Drs. H. Dadang Sofyan, MM diterima oleh...
  • Sekolah Swasta Bukan Penampung
    Jum'at, 04 Januari 2013
    Banyak anggapan jika sekolah swasta hanya menampung "siswa buangan” yang tidak bisa diterima di sekolah negeri, namun hal t...
  • Kota Magelang Komitmen Benahi Sanitasi
    Jum'at, 04 Januari 2013
    Pemerintah Kota Magelang berkomitmen mengikuti Program Percepatan Sanitasi Perkotaan (PPSP) mulai tahun ini. Kegiatan tersebut merupakan langkah nyata peningkatan penataan lingkungan khususnya di Kota Magelang. D...
Sejarah Kota Sejuta Bunga

Hari Jadi Magelang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 6 Tahun 1989, bahwa tanggal 11 April 907 Masehi merupakan hari jadi. Penetapan ini merupakan tindak lanjut dari seminar dan diskusi yang dilaksanakan oleh Panitia Peneliti Hari Jadi Kota Magelang; bekerjasama dengan Universitas Tidar Magelang dengan dibantu pakar sejarah dan arkeologi Universitas Gajah Mada, Drs.MM. Soekarto Kartoatmodjo, dengan dilengkapi berbagai penelitian di Museum Nasional maupun Museum Radya Pustaka-Surakarta. Kota Magelang mengawali sejarahnya sebagai desa perdikan Mantyasih, yang saat ini dikenal dengan Kampung Meteseh di Kelurahan Magelang. Mantyasih sendiri memiliki arti beriman dalam Cinta Kasih. Di kampung Meteseh saat ini terdapat sebuah lumpang batu yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan Sima atau Perdikan. Untuk menelusuri kembali sejarah Kota Magelang, sumber prasasti yang digunakan adalah Prasasti POH, Prasasti GILIKAN dan Prasasti MANTYASIH. Ketiganya merupakan parsasti yang ditulis diatas lempengan tembaga. Prasasti POH dan Mantyasih ditulis zaman Mataram Hindu saat pemerintahan Raja Rake Watukura Dyah Balitung (898-910 M), dalam prasasti ini disebut-sebut adanya Desa Mantyasih dan nama Desa Glangglang. Mantyasih inilah yang kemudian berubah menjadi Meteseh,sedangkan Glangglang berubah menjadi Magelang. Dalam Prasasti Mantyasih berisi antara lain, penyebutan nama Raja Rake Watukura Dyah Balitung, serta penyebutan angka 829 Çaka bulan Çaitra tanggal 11 Paro-Gelap Paringkelan Tungle, Pasaran Umanis hari Senais Sçara atau Sabtu, dengan kata lain Hari Sabtu Legi tanggal 11 April 907. Dalam Prasasti ini disebut pula Desa Mantyasih yang ditetapkan oleh Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung sebagai Desa Perdikan atau daerah bebas pajak yang dipimpin oleh pejabat patih. Juga disebut-sebut Gunung SUSUNDARA dan WUKIR SUMBING yang kini dikenal dengan Gunung SINDORO dan Gunung SUMBING. Begitulah Magelang, yang kemudian berkembang menjadi kota selanjutnya menjadi Ibukota Karesidenan Kedu dan juga pernah menjadi Ibukota Kabupaten Magelang. Setelah masa kemerdekaan kota ini menjadi kotapraja dan kemudian kotamadya dan di era reformasi, sejalan dengan pemberian otonomi seluas - luasnya kepada daerah, sebutan kotamadya ditiadakan dan diganti menjadi kota. Ketika Inggris menguasai Magelang pada abad ke 18, dijadikanlah kota ini sebagai pusat pemerintahan setingkat Kabupaten dan diangkatlah Mas Ngabehi Danukromo sebagai Bupati pertama. Bupati ini pulalah yang kemudian merintis berdirinya Kota Magelang dengan membangun Alun - alun, bangunan tempat tinggal Bupati serta sebuah masjid. Dalam perkembangan selanjutnya dipilihlah Magelang sebagai Ibukota Karesidenan Kedu pada tahun 1818. Setelah pemerintah Inggris ditaklukkan oleh Belanda, kedudukan Magelang semakin kuat. Oleh pemerintah Belanda, kota ini dijadikan pusat lalu lintas perekonomian. Selain itu karena letaknya yang strategis, udaranya yang nyaman serta pemandangannya yang indah Magelang kemudian dijadikan Kota Militer: Pemerintah Belanda terus melengkapi sarana dan prasarana perkotaan. Menara air minum dibangun di tengah-tengah kota pada tahun 1918, perusahaan listrik mulai beroperasi tahun 1927, dan jalan - jalan arteri diperkeras dan diaspal.

  • Home
  • Sejarah Kota Sejuta Bunga
  • Visi & Misi
  • Kontak
Top
Kota Sejuta Bunga
powered by Jogjamedicom